KabarKuliner.com

| Referensi Kuliner Pilihan

Menikmati Senja Berteman Segelas Kopi Joss di Angkringan Lik Man, Stasiun Tugu – Yogyakarta

BAGIKAN DI: Facebooktwittergoogle_pluspinterestlinkedintumblr
Angkringan Lik Man yang lokasinya bersebelahan dengan Stasiun Tugu

Angkringan Lik Man yang lokasinya bersebelahan dengan Stasiun Tugu

Melewatkan sore bersama teman-teman terdekat ditemani segelas Kopi Joss dan indahnya langit senja di atas Stasiun Tugu Yogyakarta sungguh pengalaman yang menyenangkan. Di atas gelaran tikar di sepanjang trotoar orang-orang terlihat asyik mengobrol sembari menikmati hidangan sederhana ala Angkringan. Kendaraan berlalu lalang hanya beberapa meter di depan mata, tapi tak sanggup mengubur keceriaan dan kehangatan yang tercipta di warung sederhana pinggir jalan itu. Bahkan keramaian lalu lintas seolah menjadi penyemarak suasana, berikut sejumlah musisi jalanan yang hilir mudik menghibur para pengunjung. Begitulah kesan yang bisa anda dapat jika berkunjung ke warung Angkringan Lik Man yang legendaris di Yogyakarta.

Angkringan Lik Man termasuk generasi awal pedagang Angkringan di Yogyakarta. Lik Man sendiri adalah putra dari Mbah Pairo, pelopor warung Angkringan di Yogyakarta yang memulai usahanya di tahun 1950-an. Mbah Pairo yang asal Klaten ini mewariskan usaha Angkringan ke anaknya sejak akhir tahun 1960-an. Semenjak itu pula, warung sederhana yang menawarkan aneka  hidangan rakyat dengan harga bersahabat ini perlahan-lahan mulai populer di kalangan masyarakat Yogyakarta.

Suasana jalan di sebelah Stasiun Tugu Yogyakarta  yang menjadi lokasi Angkringan  Lik Man

Suasana jalan di sebelah Stasiun Tugu Yogyakarta yang menjadi lokasi Angkringan Lik Man

Angkringan Lik Man berlokasi di pinggir Jalan Wongsodirjan, jalan kecil satu arah yang bersebelahan dengan Stasiun Tugu. Warungnya ada di balik tembok pembatas stasiun. Menu yang ditawarkan disini tak jauh beda dengan warung Angkringan lainnya. Nasi kucing tampil sebagai menu wajib Angkringan, disusul dengan aneka gorengan, sate telur puyuh, sate hati ampela ayam, ceker dan kepala ayam yang dimasak bacem, serta jadah bakar.

Nasi kucing adalah sebutan untuk nasi yang dibungkus kecil-kecil seukuran kepalan tangan orang dewasa, saking kecilnya dianggap mirip porsi untuk kucing. Di dalam nasi kucing biasanya disertakan sedikit lauk seperti potongan kecil bandeng dan sambal, atau oseng tempe. Disini pengunjung bisa meminta lauk pauk pilihannya, baik itu gorengan, sate ataupun baceman, dibakar terlebih dahulu agar terasa hangat dan lebih nikmat ketika disantap.

Kopi Joss, minuman unik yang menjadi ikon Angkringan Lik Man

Kopi Joss, minuman unik yang menjadi ikon Angkringan Lik Man

Untuk minumannya, tersedia menu standar yang bisa disajikan panas atau dingin, seperti teh, jeruk, kopi, dan wedang jahe. Teh nasgitelnya (teh panas, manis, dan kental) terasa mantap dan sangat cocok diminum ketika udara beranjak dingin. Namun ada satu lagi menu minuman yang menjadi ikon Angkringan Lik Man, yakni Kopi Joss. Tidak semua Angkringan di Yogyakarta menjajakan minuman unik ini.

Kopi Joss terbuat dari kopi hitam biasa yang di dalamnya dimasukkan arang yang membara. Nama ‘Joss’ sendiri diambil dari suara yang muncul ketika arang panas bersentuhan dengan seduhan kopi. Konon arang panas tersebut bisa mengurangi kadar kafein dalam kopi, tanpa merusak citarasanya. Bagi yang pertama kali mencoba, bongkahan arang dalam kopi mungkin agak membuat risih. Tapi memang begitulah ciri khas Kopi Joss.

Warung-warung sederhana semacam Angkringan ini adalah pilihan paling pas jika ingin menikmati suasana Jogja yang bersahaja dan penuh kehangatan. Pengunjung bisa menikmati hidangan rakyat murah-meriah sambil berinteraksi secara bebas tanpa sekat-sekat sosial dan formalitas yang menjemukan. Inilah sesungguhnya yang menjadi daya tarik utama Angkringan. Menunya mungkin biasa saja dan tak terlalu istimewa, tapi suasananya yang ngangeni (membuat kangen) membuat orang selalu ingin kembali. Angkringan yang sering diidentikkan dengan menu makanan kelas bawah telah bertransformasi menjadi oase bagi mereka yang jenuh dengan hiruk pikuk kehidupan kota.

Buka: sore – dini hari

Lokasi: Jl. Wongsodirjan, Yogyakarta. Samping Stasiun Tugu Yogyakarta

 

Juni 2013

*Sumber foto: kodokbanget.blogspot.com

 

(Dilihat 1.752 kali, 6 kunjungan hari ini)

Artikel Terkait

Updated: 16 Juni 2013 — 4:18 am

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright © 2012 - 2017. KabarKuliner.com | All Rights Reserved