KabarKuliner.com

| Referensi Kuliner Pilihan

Rela Blusukan Demi Ayam Goreng Mbah Cemplung yang Legendaris

BAGIKAN DI: Facebooktwittergoogle_pluspinterestlinkedintumblr

Banyak yang bilang Yogyakarta adalah salah satu gudangnya kuliner enak, namun yang sudah lama tinggal di Kota Pelajar ini tentu paham bahwa untuk menikmati kuliner otentik Jogja yang benar-benar istimewa kadang butuh perjuangan lebih. Dari yang harus blusukan di pasar-pasar tradisional hingga menyusuri kampung-kampung di pedesaan.  Di tempat-tempat yang jauh dari pusat keramaian itulah biasanya kita masih bisa merasakan nuansa kebersahajaan Yogyakarta yang dewasa ini kian pudar, termasuk dalam hal kulinernya. Di Yogyakarta memang tersedia banyak ragam makanan, namun kuliner ndeso di daerah-daerah pinggiran itulah yang justru ngangeni (membuat rindu).

Ayam Kampung Goreng ala Mbah Cemplung (foto: selerakita.info)

Ayam Kampung Goreng ala Mbah Cemplung (foto: selerakita.info)

Berlokasi di Dusun Sembungan,, Kecamatan Bangunjiwo, Bantul (kira-kira 15 km dari pusat kota Yogyakarta), Warung Ayam Goreng Mbah Cemplung adalah salah satu tempat favorit para pemburu kuliner tradisional Yogyakarta. Menunya memang sederhana dan bisa dijumpai di mana saja, namun banyak yang jatuh cinta dengan citarasa ayam goreng di sini. Ternyata untuk menghadirkan kualitas masakan yang prima, sang pemilik, Sadiyo, sangat memperhatikan detail pemilihan bahan hingga teknik pengolahannya.

Ayam yang digunakan haruslah ayam kampung, itupun yang dilepas-liarkan atau tidak dikandangkan. Ayam kampung dipilih yang beratnya antara 1,2 kg – 3,5 kg. Di bawah berat itu, daging ayam tidak keluar rasa gurih alaminya dan lebih mudah hancur ketika dimasak lama. Sementara bila terlalu berat, daging ayam akan terasa keras dan kurang nikmat.

Proses pemasakannya cukup lama, karena sebelum digoreng ayam kampung melalui dua kali proses perebusan. Perebusan pertama berlangsung selama kurang lebih 4 jam, disertai dengan bumbu rahasia ala Mbah Cemplung. Setelah itu, ayam kampung ditiriskan terlebih dulu semalam penuh dan direbus lagi keesokan harinya. Dengan proses slow cooking, daging ayam kampung bisa menjadi lebih empuk dan bumbunya pun akan lebih meresap. Selain itu, perebusan dua kali juga dimaksudkan untuk mengurangi lemak pada daging ayam. Untuk merebus ayam digunakan tungku berbahan bakar kayu bakar. Cara tradisional ini diyakini bisa memunculkan aroma masakan yang lebih sedap.

Di Warung Mbah Cemplung pembeli bisa memesan ayam goreng satu ekor utuh ataupun per potong. Bila untuk bersantap bersama atau untuk oleh-oleh, ayam goreng ingkung (satu ekor utuh) adalah pilihan yang menarik.  Ayam Goreng Mbah Cemplung cukup disajikan dengan pelengkap dua macam sambal, sambal mentah dan sambal matang,  dan lalapan. Bisa juga memesan pete yang digoreng utuh sekulit-kulitnya. Nasi yang dihidangkan di dalam ceting (semacam bakul dari logam) pun seperti menghadirkan suasana kebersamaan saat bersantap.

Ayam kampung digoreng cukup garing, tapi bagian dalam dagingnya tetap terasa lembab (moist) dan lembut. Waktu dimakan, bisa dirasakan serat-serat dagingnya yang tak lagi keras. Bumbunya membungkus keseluruhan ayam dengan baik, sehingga makin membangkitkan selera makan.  Mungkin inilah kenapa orang rela menempuh jarak belasan kilometer, blusukan ke pedesaan, demi menikmati Ayam Goreng Jawa Mbah Cemplung yang legendaris. Pilihan minuman tradisionalnya pun tak kalah menarik. Ada es tape ketan yang bercita rasa asam-manis menyegarkan dan wedang uwuh hangat yang merupakan perpaduan berbagai rempah dan dedaunan. Sempurna sudah santap mantap di warung Mbah Cemplung.

Sekilas Sejarah Ayam Goreng Mbah Cemplung

Sejarah warung makan Ayam Goreng Mbah Cemplung sendiri cukup menarik, bahkan bisa menjadi sebuah pelajaran hidup yang mengisnpirasi banyak orang. Semuanya berawal dari niat baik Sadiyo, sang pemilik warung, yang ingin membantu Mbah Cemplung, perempuan yang hidup sebatang kara. Nama asli perempuan tersebut sebetulnya Mbah Rejo, sementara Cemplung adalah nama sebuah kampung. Pada awal tahun 1970-an, Mbah Cemplung diberi modal oleh Sadiyo untuk berjualan. Semula yang dijual adalah bubur, tapi karena kurang laku Mbah Cemplung pun coba-coba memasak ayam goreng.

Ternyata menu yang terakhir ini diminati banyak orang karena rasanya yang lezat dan empuk. Singkat cerita, resep ayam goreng warisan Mbah Cemplung inilah yang kemudian menjadi tumpuan usaha Sadiyo dan keluarga. Sadiyo sendiri mungkin tak menyangka keikhlasannya menolong orang yang sedang susah akhirnya membawa berkah bagi keluarganya di masa depan.

Warung makan Mbah Cemplung berupa bangunan sederhana namun sangat lapang. Selain meja-kursi panjang, warung ini juga menyediakan meja pendek dan tikar bagi para pengunjung yang ingin bersantap sambil lesehan. Untuk ukuran sebuah warung ndeso, ternyata tempat ini memiliki area parkir yang bisa menampung cukup banyak mobil.

Peta menuju lokasi Warung Ayam Goreng Jawa Mbah Cemplung (sumber: watiswawawa.blogspot.com) 

 peta lokasi mbah cemplung

 

Warung Ayam Goreng Jawa Mbah Cemplung

Buka: 08.00 – 18.00 WIB

Lokasi: Sendang Semanggi, Dusun Sembungan, Bangunjiwo, Kasihan, Bantul – DI Yogyakarta

 

 

(Dilihat 1.337 kali, 6 kunjungan hari ini)

Artikel Terkait

Updated: 3 Desember 2014 — 1:59 pm

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright © 2012 - 2017. KabarKuliner.com | All Rights Reserved