7 KULINER SOLO YANG UNIK DAN LANGKA DI PASAR GEDE

BAGIKAN DI: Facebooktwitterpinterestlinkedintumblr

Sebagai salah satu destinasi kuliner utama di Jawa Tengah, Kota Solo memiliki banyak warisan kuliner tradisional yang masih terjaga eksistensinya dari generasi ke generasi. Di tengah gempuran aneka kuliner kekinian yang banyak dipengaruhi budaya kuliner luar (negeri), dan kerap lebih mengutamakan kepraktisan produksi dan perputaran barang yang cepat, agaknya para pengolah kuliner tradisi di Solo masih mendapatkan ruang yang cukup luas untuk terus melestarikan aneka makanan khas yang mempunyai akar kuat dalam kehidupan masyarakat setempat. Sejatinya inilah yang menjadi kekuatan dan nilai lebih kuliner Solo.  

Ada beberapa tempat kuliner di Solo yang wajib dikunjungi, dan salah satu tempat paling menarik untuk berburu kuliner tradisonal tentunya adalah Pasar Gede. Berbelanja di Pasar Gede Solo layaknya kita menikmati layanan one stop service. Tidak hanya sembako dan berbagai barang kebutuhan sehari-hari lainnya, di dalam maupun area sekitar pasar kita juga bisa mendapati aneka kuliner tradisional yang menggugah selera, bahkan beberapa di antaranya terbilang langka dan sudah mulai sulit dijumpai di tempat lain. Berikut ini adalah 7 kuliner Pasar Gede Solo yang perlu Anda coba:

  1. Dawet Selasih
Dawet Selasih

Tak ada yang lebih nikmat dari semangkuk dawet selasih untuk melepas lelah dan dahaga setelah blusukan di Pasar Gede. Dawet selasih, ada juga yang menyebutnya dawet telasih, memadukan kuah santan dengan gula aren sehingga terasa ringan dan menyegarkan. Isiannya terdiri dari cendol, ketan hitam, tape ketan hijau, bubur sumsum, nangka, dan biji selasih. Di dalam area pasar ada beberapa penjual dawet selasih, tinggal pilih mana yang sesuai selera.

2. Lenjongan

Lenjongan Pasar Gede

Lenjongan adalah perpaduan dari beberapa jenis jajanan pasar dalam satu sajian. Di dalamnya terdiri dari klepon, sawut, jongkong, gatot, gethuk, tiwuk, cenil, ketan putih, ketan hitam, dan grontol (jagung rebung yang sudah dikupas kulit arinya). Jika pengin mencicipi aneka jajanan pasar khas Solo, seporsi lenjongan ini sudah hampir mewakili semuanya. Meski demikian, pembeli bebas memilih jajanan pasar yang disuka untuk dipadupadankan dalam satu pincuk/bungkus lenjongan.

3. Tengkleng Kambing

Tengkleng Kambing khas Solo

Tengkleng sudah menjadi semacam kuliner legendaris Solo. Tak mungkin melewatkan olahan kambing satu ini ketika berbicara tentang rekomendasi kuliner Solo. Ada banyak penjual tengkleng di Solo, tak terkecuali di Pasar Gede. Tengkleng adalah satu masakan berkuah dengan bahan dasar kambing, terutama bagian tulang (iga dan kaki), sumsum, kepala, dan jeroan. Kuahnya lebih ringan dan segar dibandingkan gule kambing karena tidak menggunakan santan. Di Pasar Gede, penjual tengkleng ini bisa dijumpai di dekat pintu masuk dan di lantai dua.

4. Rambak Petis

Rambak petis adalah kerupuk kulit sapi yang dipadukan dengan cocolan petis khas Jawa yang bercita rasa manis. Perpaduan rasa gurih dari kerupuk kulit dan manis dari petis membuat lidah serasa sulit berhenti mencecap. Rambak petis ini adalah kuliner khas Solo yang cocok untuk dijadikan oleh-oleh.

5. Brambang Asem

Brambang Asem

Jika Anda berpikir pecel barangkali sudah terlalu mainstream dan mudah dijumpai di kota mana pun, maka cobalah brambang asem khas Solo ini. Brambang Asem adalah sajian tradisional berbahan dasar daun ketela rambat yang dipadukan dengan siraman sambal yang terbuat dari brambang atau bawang merah bakar, asam jawa, gula merah, dan cabai. Rasanya manis, asam, pedas. Tak seperti sambal pecel yang terbuat dari kacang, sambal brambang asem terasa lebih ringan dan menyegarkan saat disantap. Sangat pas dipadukan dengan daun ketela yang lembut dan tekstur permukaan daunnya yang agak licin. Untuk pelengkapnya biasa disediakan gembus (terbuat dari ampas tahu yang difermentasi) bacem. Slurppp!! Kuliner tradisional yang menyehatkan.

6. Cabuk Wijen

Cabuk Wijen

Bagi yang suka berburu kuliner unik dan langka, cabuk wijen bisa menjadi pilihan. Berbeda dengan cabuk rambak, cabuk wijen adalah sejenis lauk yang terbuat dari adonan wijen sangrai yang dicampur dengan parutan kelapa, bawang putih, cabai, gula jawa, dan daun kemangi. Warnanya hitam dan dibungkus memanjang dengan daun pisang, menyerupai otak-otak atau pepes. Dimasak dengan cara dikukus. Lauk tradisional ini mempunyai wangi yang khas dan rasanya perpaduan antara manis, gurih, dan sedikit pedas. Cukup disajikan bersama sepiringi nasi hangat, cabuk wijen ini menjadi lauk “pencuri nasi” yang praktis lagi nikmat. Suap demi suap nasi hangat berbalur cabuk wijen yang aromatik membuat santap pagi ataupun siang terasa lebih khidmat.

7. Gembrot Sembukan

Gembrot Sembukan

Satu lagi kuliner unik dan langka yang bisa ditemukan di Pasar Gede: gembrot sembukan. Namanya mungkin terkesan konyol, tapi cita rasa yang ditawarkan tidak sebercanda itu. Gembrot sembukan adalah makanan tradisional Jawa yang berbahan dasar daun sembukan (ada yang menyebutnya daun kentut) dan parutan kelapa muda, mirip dengan bothok. Ada juga yang menambahkan tempe semangit untuk aroma khasnya. Bumbunya terdiri dari bawang putih, cabai, lengkuas, ketumbar, gula, dan garam. Dibungkus mirip pepes dan dimasak dengan cara dikukus. Seperti halnya cabuk wijen, gembrot sembukan ini sangat cocok dinikmati bersama nasi hangat. Rasanya cenderung gurih, sedikit manis, dan ada lamat-lamat rasa pahit dari daun sembukannya.

Updated: 10 September 2022 — 2:30 pm

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.