Malam semakin larut di Salatiga. Di beberapa sudut kota terlihat para pedagang kaki lima sudah mulai berkemas dan bersiap menutup warung tendanya. Namun di pertigaan Nanggulan yang sudah mulai sepi itu, masih ada satu gerobak nasi goreng berwarna hijau yang bertahan. Nyaris tak ada lagi lalu lalang kendaraan kecuali segelintir orang yang terlihat datang dan pergi, silih berganti, dari pojok pertigaan itu sambil membawa bungkusan. Sementara dua orang lain nampak sedang asyik lesehan beralas tikar di depan deretan kios sembari menyantap nasi goreng. Waktu sudah lewat jam 12.00 malam dan Mas Parno, si pemilik gerobak hijau, masih bersetia melayani pesanan pelanggannya. Bagi sebagian orang Salatiga, terlebih mereka yang banyak beraktivitas di malam hari, nasi goreng jawa dan mie nyemek olahan Mas Parno adalah penyelamat saat lapar melanda dan udara dingin menyergap di kala malam. Tak banyak warung makan di Salatiga yang buka hingga dini hari dan menawarkan citarasa makanan yang enak.
Salatiga
Segarnya Susu Aneka Rasa di Stasiun Susu Salatiga
Ada satu jenis minuman yang menjadi sangat populer di Salatiga dalam beberapa tahun terakhir ini, yakni susu sapi segar. Dulu sangat jarang yang menjajakan minuman yang lekat dengan jargon “empat sehat lima sempurna” ini, namun sedari enam atau tujuh tahun lalu susu sapi segar menjadi semacam jajanan khas di pagi hari. Cukup bermodalkan gerobak dan beberapa kursi plastik, kedai susu kaki lima yang tersebar di penjuru kota Salatiga tak pernah sepi pengunjung. Dalam perkembangannya, susu yang awalnya umum dijual di pagi hari pun semakin banyak ditemui pada malam hari. Kota Salatiga memang tidak seterkenal tetangganya, Boyolali, sebagai produsen susu sapi, akan tetapi geliat kuliner di Salatiga yang mengandalkan produk ini jauh lebih terasa.
Soto Kwali Pak Iket, Kuliner Jadul di Terminal Bus Salatiga
Perburuan kuliner lawas atau jadul di Salatiga seakan tak ada habisnya. Setelah beberapa kali harus blusukan ke dalam gang-gang kecil, kini langkah mengarah ke daerah Terminal Bus Pos Tingkir, Salatiga. Di antara deretan kios yang kebanyakan ditempati oleh agen bus / perjalanan, terselip satu warung soto yang konon sudah ada sejak tahun 1960-an. Namanya pun mudah diingat, Warung Soto Kwali Pak Iket. Kini tempat ini dikelola oleh generasi ketiga. Setelah lebih dari empat dasawarsa, Soto Pak Iket masih bisa tetap bertahan dan terus dicari pelanggan setianya, dari dalam maupun luar kota.
Blusukan di Salatiga Berburu Kuliner Lawas Nasi Rames Empal Kartoali
Berburu kuliner lawas atau jadul (jaman dulu) selalu menjadi kegiatan yang menyenangkan, meski untuk itu kadang harus menempuh medan yang kurang bersahabat dan mencari lokasi yang sulit untuk ditemukan. Selain bisa bernostalgia dengan kuliner andalan di masa yang silam, kita juga bisa turut andil untuk melestarikan keberadaannya. Sangat disayangkan jika kuliner-kuliner lawas yang berkualitas mulai berguguran karena tidak terpromosikan dengan baik pada para calon pelanggan baru.
Pedas Nikmat Tongseng Kambing Pak Mahmud Salatiga
Masakan pedas atau berempah yang tersaji panas selalu menjadi menu makan malam yang menyenangkan ketika berada di Salatiga. Seolah itu adalah penangkal ampuh udara dataran tinggi yang dingin. Bila anda ke Blotongan, menyusuri jalan raya yang mengarah ke Semarang, ada satu warung tenda yang menjual menu istimewa tersebut, yakni Warung Sate dan Tongseng Kambing Pak Mahmud. Bertempat di halaman depan sebuah bengkel otomotif, di pinggir jalan raya. Warung ini mulai buka malam hari, setelah bengkel tersebut tutup. Meski sekelilingnya agak gelap, tulisan di spanduknya cukup besar hingga mudah terbaca siapapun yang mencarinya.
Warung Lawuh Ndeso, Surganya Masakan Jawa di Salatiga

Warung Lawuh Ndeso boleh dibilang sebagai rujukan utama jika anda ingin bersantap pagi atau siang dengan menu masakan Jawa yang komplit di Salatiga. Tempat ini sebetulnya belum lama berdiri, namun reputasi pemiliknya sebagai pengusaha katering Sinar Mulya Abadi yang terkenal di Salatiga agaknya turut menjadi jaminan kualitas berbagai masakan yang ditawarkan. Sebelum menjadi rumah makan seperti sekarang, Lawuh Ndeso dulu hanya berupa warung mobil yang khusus berjualan di bulan Ramadhan. Yang dijajakan adalah aneka menu untuk berbuka puasa. Mungkin karena melihat penggemarnya cukup banyak, sang pemilik pun mulai berani membuka rumah makan permanen dengan jam buka pagi hingga sore hari.
Sate Sapi Pak Kempleng Ungaran, Bukan Sate Sapi Biasa

Sate merupakan salah satu kuliner paling populer di Indonesia dan ragamnya sebenarnya cukup banyak, baik dari segi pengolahan maupun bahan baku yang digunakan. Ada yang menggunakan bahan daging ayam, kambing, sapi, maupun kerbau. Meski demikian, di Indonesia sepertinya tak ada yang bisa mengalahkan dominasi sate ayam dan kambing ala Madura. Bahan baku tersebut biasanya diolah secara minimalis, dengan hanya dibumbui ketika akan dibakar. Untuk penyajiannya, bumbu kacang atau kecap adalah pendamping wajib yang tak tergantikan. Kuliner yang dipopulerkan para perantau asal Madura ini sudah tersebar di seantero nusantara. Bahkan sudah menjadi rujukan standar atau ikon sate khas Indonesia.
Menikmati Pagi di Salatiga dengan Semangkuk Soto Bening Bu Anik

Lapangan alun-alun Pancasila merupakan salah satu lokasi favorit warga Salatiga untuk berakhir pekan. Dari pagi hingga malam, kawasan sekitar alun-alun senantiasa diramaikan oleh aktivitas warga, dari yang berolahraga, bermain dengan keluarga, hingga berkumpul dengan komunitasnya. Di seputaran lapangan Pancasila juga terdapat beberapa pilihan kuliner yang bisa dicoba, salah satu yang tak pernah sepi pengunjung adalah Warung Soto Bening Bu Anik.
Memanjakan Lidah dengan Seporsi Besar Gecok Kambing Mbah Tini (Tlogo – Tuntang)

Tlogo memang pusatnya kuliner Gecok Kambing, olahan berbahan dasar kambing dengan bumbu rempah yang kuat. Di lokasi yang tak jauh dari Gecok Kambing Bu Sari, ada satu lagi tempat yang bisa menjadi referensi yakni Gecok Kambing Tlogo Mbah Tini.
Gecok Kambing Bu Sari yang Kaya Rempah dan Menghangatkan Tubuh (Tlogo, Tuntang – Salatiga)

Bagi penggemar olahan kambing, desa Tlogo di kecamatan Tuntang, Kabupaten Semarang barangkali akan menjadi tempat yang tepat untuk menjelajah citarasa baru dan unik. Lupakan masakan standar semacam gule, tongseng, ataupun sop. Disini anda akan mendapati satu jenis olahan kambing dengan bumbu rempah yang sangat kaya, namanya adalah Gecok. Meski secara administratif merupakan bagian Kabupaten Semarang, Gecok dari Tlogo juga sering diidentikkan dengan kuliner khas Salatiga. Bisa dipahami, karena lokasinya memang sangat dekat dengan Salatiga.